Trending Stories

Saat Bahagia Tak Lagi Bergantung pada Rupa Dunia

 📍 Pantai Batu Pinagut Boltara | 📸 Syaris

Pernahkah kita sejenak berhenti di tengah hiruk-pikuk hari, lalu bertanya pada cermin di dalam jiwa: "Sudah bertahun-tahun aku bersujud, namun mengapa getaran hatiku masih sama dengan mereka yang belum mengenal jalan ini?" Kita mengaku telah menjemput hidayah, namun seringkali, definisi "bahagia" kita masih tertinggal di pasar-pasar dunia, terikat pada angka-angka, dan bergantung pada kenyamanan raga.

Mari kita menyelami lebih dalam, apakah cahaya itu telah benar-benar meresap ke sumsum nurani, atau ia baru sekadar membasahi permukaan kulit saja?

Bagi jiwa yang awam, kebahagiaan adalah sebuah bangunan yang rapuh karena fondasinya diletakkan di atas pasir perubahan. Mereka hanya mampu tersenyum ketika semesta berjalan sesuai kemauan mereka, saat pundi-pundi penuh, saat pasangan memanjakan mata, atau saat anak-anak tumbuh sesuai rencana.

Kesenangan ini bersifat transaksional. Jika dunia memberi, mereka rida, jika dunia mengambil, mereka murka. Di titik ini, kita perlu bertanya pada diri sendiri, Jika kita masih merasa hancur hanya karena kehilangan materi, atau merasa paling malang saat doa-doa duniawi belum terwujud, lantas di mana letak pembeda antara kita dengan mereka yang belum mengenal Allah?

Hakikat hidayah bukan terletak pada perubahan nasib lahiriah, melainkan pada transformasi cara pandang batiniah. Orang yang benar-benar beriman memiliki sebuah "ruang rahasia" di hatinya yang tidak bisa dijamu oleh badai manapun.

Bagi mereka, dunia hanyalah sebuah sarana pengabdian.

  • Saat harta melimpah, itu adalah panggung untuk syukur.
  • Saat harta menyempit, itu adalah panggung untuk sabar.

Kedua keadaan tersebut memiliki nilai yang sama di mata mereka, karena esensi dari keduanya adalah sama, kesempatan untuk beribadah. Mereka tidak lagi mendikte Allah tentang bagaimana cara membuat mereka bahagia. Sebaliknya, mereka memaksa diri mereka untuk menemukan kebahagiaan di dalam apa pun yang Allah rida.

Alangkah luasnya rahmat Allah yang tidak membatasi perjumpaan dengan-Nya hanya di masa-masa lapang. Hidayah yang sejati adalah kesadaran bahwa Allah mengizinkan kita mendekat dalam segala cuaca kehidupan.

Bukankah luar biasa bahwa kita tetap bisa menjadi hamba yang dicintai-Nya saat inflasi mencekik maupun saat ekonomi stabil? Kita tetap bisa bersujud dengan kualitas yang sama, baik saat memiliki keturunan maupun saat rahim masih menanti titipan.

Di sinilah letak kemerdekaan yang hakiki. Seorang beriman tidak lagi disandera oleh keadaan ekonomi, strata sosial, atau penilaian manusia. Selama iman masih bertahta dan Allah belum mencabut nikmat mengenal-Nya dari hati, maka seluruh dekorasi duniawi, entah itu kemilau emas atau debu kemiskinan, hanya akan terlihat sebagai latar belakang yang samar.

Hidayah bukanlah sebuah destinasi di mana semua masalah kita selesai, melainkan sebuah kekuatan di mana masalah tidak lagi mampu melukai kedamaian kita. Jika hari ini kita masih merasa bahagia hanya karena nikmat duniawi, mungkin kita baru sekadar "tahu" tentang hidayah, belum "merasakan" hidayah.

Kebahagiaan orang beriman tidak bermuara pada apa yang ia miliki, melainkan pada Siapa yang ia miliki. Selama Allah masih ada di hati, bukankah segalanya sudah lebih dari cukup?

Maka, tanyakanlah pada nuranimu: Sudahkah rida Allah menjadi satu-satunya standar kesenanganmu hari ini?

Komentar