← Kembali ke beranda

Siapa yang Menguatkan Pemimpin?


Ketika pekerjaan tersendat, kita biasanya mencari pemimpin. Kita menunggu arah, meminta keputusan, dan berharap ia menenangkan keadaan. Di tengah kebutuhan itu, mudah bagi kita untuk lupa bahwa orang yang dimintai jawaban juga bisa sedang menghadapi persoalan yang belum ia temukan jalan keluarnya.

Saya kembali teringat nasihat Ayah, rahimahullah, agar tidak mudah iri kepada atasan karena kita tidak mengetahui beratnya beban yang ia pikul. Semakin direnungkan, nasihat itu mengajak saya melihat kepemimpinan dengan lebih utuh: ada kewenangan yang tampak, ada pula tanggung jawab yang tidak seluruhnya terlihat.

Allah memerintahkan Rasulullah ﷺ untuk bermusyawarah dengan para sahabat. Dalam penggalan QS. Ali ‘Imran: 159, Allah berfirman, yang artinya:

“Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah.”

Perintah ini hadir bersama tuntunan untuk bersikap lembut dan memaafkan. Ada ruang untuk mendengar sebelum menetapkan langkah, kemudian bersandar kepada Allah setelah keputusan diambil. QS. Ali ‘Imran: 159.

Ibnu Katsir, ulama tafsir yang hidup sesudah generasi salaf, menjelaskan bahwa Rasulullah ﷺ meminta pertimbangan para sahabat dalam berbagai urusan. Musyawarah tersebut juga menenteramkan hati mereka dan mendorong keterlibatan dalam menjalankan keputusan. Tafsir Ibnu Katsir, penjelasan QS. Ali ‘Imran: 159.

Dalam kehidupan sahabat, kita melihat kesediaan menerima pengingat pada diri Umar bin al-Khattab radhiyallahu ‘anhu. Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa orang-orang berilmu tentang Al-Qur’an menjadi penasihat Umar, baik yang tua maupun yang muda. Ketika Al-Hurr bin Qais mengingatkannya dengan ayat Al-Qur’an saat ia marah, Umar menahan diri dan tunduk kepada petunjuk tersebut. HR. al-Bukhari, no. 7286.

Saya mengambil pelajaran bahwa seorang pemimpin membutuhkan orang yang dapat membantunya melihat dengan jernih. Kedudukan tidak menghapus keterbatasan pengetahuan, dan besarnya tanggung jawab justru memperbesar kebutuhan akan nasihat.

Persoalan ini juga terasa dekat dengan keadaan dunia kerja sekarang. Gallup dalam State of the Global Workplace 2026 mencatat bahwa persentase manajer yang terlibat secara aktif dalam pekerjaan turun dari 27% pada 2024 menjadi 22% pada 2025. Pada tahun yang sama, keterlibatan seluruh pekerja secara global berada pada 20%. Angka tersebut mengukur keterikatan dan keterlibatan dalam pekerjaan, sehingga tidak dapat langsung dimaknai sebagai tingkat kelelahan. Temuan global ini pun tidak serta-merta menggambarkan keadaan birokrasi Indonesia. Gallup, State of the Global Workplace 2026.

Meski demikian, temuan itu memberi alasan untuk memperhatikan keadaan orang yang memimpin. Dalam keseharian, seorang atasan bisa menghadapi tuntutan dari pimpinan, kebutuhan staf, dan sumber daya yang terbatas pada waktu bersamaan. Memahami keadaan tersebut membantu kita menyampaikan kritik dengan lebih adil, sambil tetap menuntut pertanggungjawaban atas keputusannya.

Jika kita berada pada posisi memimpin, salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah mengakui bagian yang belum kita pahami. Kalimat seperti, “Saya perlu pertimbangan Anda sebelum memutuskan,” memberi kesempatan bagi pengetahuan orang lain untuk membantu pekerjaan bersama.

Namun, meminta pendapat perlu disertai kesiapan mendengarnya. Jika setiap perbedaan segera dipatahkan, orang akan belajar memberikan jawaban yang paling aman. Kita mungkin tetap menerima banyak laporan, tetapi kehilangan pertimbangan yang sebenarnya dibutuhkan.

Karena itu, pemimpin perlu menjaga hubungan dengan orang yang mampu menyampaikan nasihat secara jujur dan beradab. Seseorang yang bersedia menunjukkan kekeliruan dapat membantu kita memperbaiki keputusan sebelum akibatnya meluas. Kesediaan menerima nasihat perlu dilatih ketika hati kita sedang tidak nyaman mendengarnya.

Dukungan juga hadir melalui pembagian pekerjaan yang jelas. Bayangkan sebuah tim yang seluruh urusannya harus menunggu persetujuan satu orang. Ketika orang itu kewalahan, pekerjaan ikut tertahan. Staf yang sebenarnya mampu pun tidak memperoleh cukup ruang untuk belajar dan bertanggung jawab.

Membagi tugas memerlukan kejelasan hasil, batas kewenangan, waktu penyelesaian, dan saat ketika bantuan perlu diminta. Pemimpin tetap memantau serta memberi arahan. Dengan cara ini, tanggung jawab dijalankan melalui kerja bersama yang tertib.

Jika kita menjadi bagian dari tim, kita pun dapat ikut menguatkan pemimpin. Kita bisa menyampaikan masalah lebih awal, membawa informasi yang telah diperiksa, dan mengerjakan bagian yang menjadi amanah kita. Saat meminta keputusan, kita membantu dengan menjelaskan pilihan beserta akibatnya.

Ada pula saat ketika dukungan terbaik adalah nasihat yang disampaikan dengan hormat. Menghargai beratnya beban seseorang perlu berjalan bersama kepedulian agar ia tidak terus melangkah dalam kekeliruan.

Pada akhirnya, seorang pemimpin tetap membutuhkan pertolongan Allah, nasihat yang jujur, dan orang-orang yang bersedia menunaikan amanah bersamanya. Jika kita dipercaya memimpin, semoga kita diberi kelapangan untuk meminta bantuan dan menerima pengingat. Jika kita berada di sisinya, semoga kehadiran kita membantu ia menjalankan tanggung jawab dengan lebih baik.

Berhenti sejenak. Bawa pulang satu hikmah.

Jelajahi tema →

Komentar