← Kembali ke beranda

Duduk Bersama, Hadir di Mana?


Seseorang di hadapan kita baru saja selesai bercerita. Kita mengangkat wajah dari ponsel, lalu bertanya, “Tadi bilang apa?” Ia harus mengulang, sementara kita mungkin belum menyadari bahwa sejak tadi ia sedang menunggu perhatian.

Kejadian seperti ini mudah menyelinap ke dalam keseharian. Pasangan bercerita sepulang bekerja, anak ingin menunjukkan hasil gambarnya, atau seorang tamu menanyakan kabar. Kita berada di dekat mereka, tetapi perhatian terus berpindah mengikuti layar ponsel yang menyala.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kepekaan terhadap perasaan orang yang duduk bersama kita. Beliau melarang dua orang berbicara secara rahasia dengan mengabaikan orang ketiga ketika mereka hanya bertiga, hingga mereka bergabung dengan orang lain. Beliau menyebut alasannya: hal itu dapat membuat orang ketiga bersedih. (HR. al-Bukhari, no. 6290)

Hadis ini secara khusus membicarakan percakapan rahasia di antara dua orang yang menyisihkan orang ketiga. Alasannya memperlihatkan betapa perasaan seseorang dalam sebuah pertemuan patut diperhatikan. Cara kita bercakap dapat membuat orang lain merasa diterima atau justru tersisih.

Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma menjaga adab ini dalam kesehariannya. Abdullah bin Dinar menceritakan bahwa ketika ia sedang bersama Ibnu Umar, datang seseorang yang ingin berbicara secara pribadi. Ibnu Umar memanggil seorang lagi sehingga mereka berjumlah empat. Setelah itu, barulah ia meminta Abdullah bin Dinar dan orang yang dipanggilnya untuk sedikit menjauh. Ia menjelaskan tindakannya dengan menyebut larangan Nabi tersebut. Riwayat ini dicantumkan Imam Malik dalam al-Muwaththa’ dan dinukil Imam an-Nawawi dalam Riyadhush Shalihin. (Riyadhush Shalihin, no. 1598)

Ada kebutuhan untuk berbicara secara pribadi, dan Ibnu Umar mengaturnya sambil tetap menjaga adab terhadap orang yang sedang bersamanya.

Dalam pergaulan hari ini, kepekaan semacam itu perlu kita bawa ketika menggunakan ponsel. Penerapannya ialah memperhatikan apakah kesibukan kita dengan layar membuat orang di hadapan merasa diabaikan.

Perilaku mengabaikan seseorang demi ponsel dikenal sebagai phubbing. Meta-analisis yang diterbitkan dalam Frontiers in Psychology pada 2025 merangkum 52 penelitian dengan 19.698 peserta. Hasilnya menunjukkan hubungan antara pengabaian pasangan demi ponsel dengan kepuasan hubungan yang lebih rendah, berkurangnya kedekatan, serta meningkatnya konflik. Penelitian ini berfokus pada pasangan, dan sebagian besar studi yang dirangkum bersifat korelasional sehingga tidak memastikan sebab-akibat. (Ni dan rekan-rekan, 2025)

Temuan tersebut memberi bahan renungan tentang kebiasaan yang kadang kita anggap sepele. Kita mungkin merasa masih mendengarkan sambil membaca pesan. Namun, kita dapat melewatkan nada suara, jeda, atau perubahan wajah yang membantu kita memahami cerita.

Pasangan yang sedang menyampaikan kegelisahan mungkin membutuhkan waktu untuk menjelaskan. Anak yang memanggil mungkin ingin berbagi kegembiraan kecil. Ketika perhatian kita terus terputus, percakapan pun menjadi sulit diteruskan.

Kita tentu memiliki pekerjaan dan tanggung jawab yang kadang harus ditangani melalui ponsel. Ada pesan penting, panggilan keluarga, atau urusan mendesak yang tidak bisa ditunda. Dalam keadaan demikian, memberi penjelasan sederhana dapat membantu: “Maaf, saya perlu membalas pesan ini sebentar. Setelah itu saya dengarkan.”

Penjelasan itu perlu diikuti dengan tindakan. Selesaikan urusannya, letakkan ponsel, lalu kembali kepada percakapan. Jika membutuhkan waktu lebih lama, sampaikan dengan jujur agar orang lain tidak terus menunggu tanpa kepastian.

Kita juga dapat menyediakan waktu yang lebih terjaga: saat makan bersama, menerima tamu, atau mendengarkan cerita keluarga pada penghujung hari. Menjauhkan ponsel dari jangkauan dapat membantu kita menahan kebiasaan memeriksanya setiap kali percakapan berhenti sejenak.

Ketika perhatian telanjur teralihkan, kita dapat mengakuinya. “Maaf, tadi perhatian saya terpecah. Bisa diceritakan lagi?” Setelah itu, beri kesempatan orang tersebut menyelesaikan ceritanya. Dengarkan dahulu sebelum menyiapkan jawaban atau nasihat.

Latihan ini sederhana, tetapi memerlukan kesungguhan. Kita belajar membiarkan notifikasi menunggu ketika urusannya bisa ditunda. Kita juga belajar menghargai waktu yang telah diberikan seseorang untuk duduk dan berbicara bersama kita.

Pertemuan sehari-hari memberi banyak kesempatan untuk melatih adab. Saat seseorang mulai bercerita, kita dapat meletakkan ponsel dan mendengarkannya sampai selesai. Dari perhatian yang sederhana itu, semoga orang-orang terdekat merasakan bahwa waktu bersama mereka kita hargai.

Berhenti sejenak. Bawa pulang satu hikmah.

Jelajahi tema →

Komentar