Sejak pagi, kita sudah membalas pesan, menjawab surel, dan menghadiri rapat. Setiap kali hendak melanjutkan pekerjaan, ada pemberitahuan baru yang meminta perhatian. Menjelang siang, banyak percakapan telah ditanggapi, tetapi tugas utama belum banyak bergerak.
Kita merasa sibuk, bahkan lelah. Namun, ketika memeriksa hasil pekerjaan, muncul pertanyaan: mengapa waktu yang sudah digunakan belum cukup membawa kita pada penyelesaian?
Dalam sebuah riwayat, Salman radhiyallahu ‘anhu mengingatkan Abu Darda bahwa Rabbnya, dirinya, dan keluarganya memiliki hak yang perlu ditunaikan. Ketika nasihat itu disampaikan kepada Rasulullah ﷺ, beliau membenarkannya. Riwayat ini tercantum dalam Sahih al-Bukhari nomor 1968.
Konteksnya adalah kesungguhan Abu Darda dalam beribadah, sementara ada hak lain yang perlu diperhatikan. Salman, seorang sahabat Nabi, menunjukkan bahwa kesungguhan pada satu kegiatan harus disertai perhatian terhadap tanggung jawab lainnya.
Riwayat tersebut memberi kita prinsip untuk direnungkan: setiap hak perlu memperoleh tempat yang semestinya. Dalam kehidupan sehari-hari, prinsip ini membantu kita memeriksa apakah perhatian kita sudah dibagikan sesuai tanggung jawab, atau terus mengikuti hal yang paling sering memanggil.
Pada lingkungan kerja digital, persoalan itu mudah kita jumpai.
Laporan Microsoft Breaking Down the Infinite Workday, terbit Juni 2025, menggambarkan aktivitas kerja yang dipenuhi pesan, surel, dan rapat. Angka 275 gangguan sehari yang disebutkan dalam laporan tersebut dihitung selama 24 jam pada kelompok 20% pengguna dengan volume notifikasi tertinggi. Datanya berasal dari aktivitas Microsoft 365, sehingga tidak mewakili seluruh pekerja maupun semua jenis pekerjaan. Sumber dan metodologi Microsoft.
Temuan itu mengajak kita memperhatikan sesuatu yang sering luput dari jadwal: waktu yang tampak tersedia dapat terus terpotong oleh permintaan perhatian.
Kita mungkin memiliki satu jam untuk menyusun laporan. Namun, di tengah pekerjaan, kita membuka pesan, mencari informasi untuk rekan, lalu masuk ke percakapan lain. Ketika kembali, kita perlu membaca ulang bagian yang tadi dikerjakan. Satu jam berlalu dengan berbagai urusan, sementara laporan masih menunggu.
Tentu, pesan dan rapat juga merupakan bagian dari pekerjaan. Ada rekan yang membutuhkan jawaban agar dapat melanjutkan tugas. Ada pelanggan yang perlu segera dilayani. Pada pekerjaan tertentu, kemampuan merespons memang menjadi tanggung jawab utama.
Karena itu, persoalannya perlu ditimbang berdasarkan peran dan keadaan. Kita perlu membedakan komunikasi yang membantu pekerjaan bergerak dan kebiasaan merespons yang justru membuat tanggung jawab lain tertunda.
Di sinilah prinsip menunaikan hak dapat menjadi pertimbangan. Rekan kerja membutuhkan informasi, sementara pekerjaan yang dipercayakan kepada kita membutuhkan ketelitian dan penyelesaian. Keduanya perlu diatur agar satu kebutuhan tidak terus mendesak kebutuhan lainnya.
Pengaturan tersebut merupakan penerapan praktis dalam pekerjaan masa kini. Riwayat Salman tidak mengajarkan metode mengelola notifikasi, tetapi memberi dasar untuk memperhatikan hak secara proporsional.
Langkah awalnya dapat berupa kejelasan tentang pekerjaan yang perlu diselesaikan. Sebelum membuka berbagai percakapan, kita dapat menentukan satu tugas yang paling membutuhkan perhatian hari itu. Dengan mengetahui hasil yang dituju, kita lebih mudah menimbang permintaan baru yang datang.
Sesudahnya, waktu respons perlu dibicarakan bersama. Jika pekerjaan memungkinkan, pesan rutin dapat diperiksa pada waktu tertentu. Untuk kebutuhan mendesak, tim dapat menyepakati jalur yang lebih jelas, misalnya panggilan langsung. Kesepakatan ini membantu orang lain mengetahui kapan mereka dapat menunggu dan kapan perlu segera menghubungi.
Batas semacam itu sebaiknya disesuaikan dengan tanggung jawab. Orang yang bertugas melayani pelanggan tentu memiliki kebutuhan berbeda dari orang yang sedang menyusun analisis. Kita perlu mencari pengaturan yang menjaga layanan sekaligus memberi kesempatan untuk menyelesaikan pekerjaan dengan baik.
Kita juga dapat memperbaiki cara mengirim pesan. Sampaikan kebutuhan, konteks, dan batas waktu dengan cukup jelas. Pertanyaan yang lengkap membantu penerima menjawab tanpa harus melalui percakapan panjang untuk memahami maksudnya. Dengan demikian, menjaga perhatian menjadi tanggung jawab bersama.
Bagi pemimpin, hal ini berarti memeriksa kebiasaan tim. Apakah semua pesan dianggap harus segera dijawab? Apakah rapat memiliki tujuan yang jelas? Apakah seseorang mendapat ruang untuk menyelesaikan tugas setelah menerima berbagai arahan?
Jika tuntutan kerja terus bertabrakan, disiplin pribadi saja mungkin belum cukup. Ada prioritas dan cara berkoordinasi yang perlu diperjelas.
Pada akhirnya, kita tetap perlu menilai pekerjaan dari amanah yang berhasil ditunaikan. Banyaknya balasan menunjukkan aktivitas komunikasi, tetapi kita masih perlu memeriksa apakah persoalan menjadi jelas dan pekerjaan bergerak menuju selesai.
Sebelum hari berakhir, luangkan waktu sejenak untuk melihat kembali tugas utama. Adakah yang belum tersentuh karena perhatian terus berpindah? Dari pemeriksaan sederhana itu, kita dapat menentukan apa yang perlu dijaga pada hari berikutnya.
Setiap permintaan perhatian perlu kita timbang dengan tanggung jawab yang sedang dipegang. Menjawab pada waktunya adalah bagian dari amanah, menyediakan perhatian untuk menyelesaikan pekerjaan juga demikian. Barangkali yang kita perlukan hari ini adalah memberi satu tugas kesempatan yang cukup untuk benar-benar selesai.
Komentar
Posting Komentar