Di jalur pendakian, langkah setiap orang tidak selalu sama. Ada yang masih sanggup berjalan cepat, sementara temannya mulai membutuhkan waktu untuk beristirahat. Dalam keadaan seperti itu, perhatian kita perlu menjangkau orang-orang yang berjalan bersama, apakah mereka masih mampu melanjutkan perjalanan, atau sedang membutuhkan bantuan?
Gambaran pendakian menuju puncak gunung mengajak saya memikirkan kehidupan di tempat kerja. Kita menerima pembagian tugas, mengejar tenggat, dan mengusahakan hasil yang baik. Namun, pekerjaan kita sering bergantung pada pekerjaan orang lain. Bagian yang selesai di meja kita mungkin masih harus melewati beberapa tangan sebelum benar-benar bermanfaat.
Allah berfirman dalam sebagian Surah Al-Ma’idah ayat 2,
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.” QS. Al-Ma’idah: 2.
Ath-Thabari meriwayatkan penjelasan Ibnu ‘Abbas bahwa kebajikan berkaitan dengan mengerjakan apa yang diperintahkan Allah, sedangkan takwa berkaitan dengan menjauhi apa yang dilarang-Nya. Dalam penafsirannya, ath-Thabari menjelaskan perintah untuk saling membantu menjalankan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan. Tafsir ath-Thabari, Surah Al-Ma’idah ayat 2.
Dengan dasar itu, kebersamaan mempunyai arah dan batas yang jelas. Kita saling membantu dalam kebaikan, sekaligus menjaga agar bantuan tersebut tidak membawa kita kepada pelanggaran.
Dalam pekerjaan, prinsip ini dapat diterapkan melalui hal-hal yang dekat dengan keseharian. Kita memberikan informasi yang dibutuhkan rekan, menjelaskan prosedur kepada pegawai yang baru belajar, atau mengingatkan kekeliruan sebelum dokumen diteruskan. Bantuan seperti itu dapat membuat pekerjaan lebih tertib dan mengurangi kesulitan bagi orang yang mengerjakan tahap berikutnya.
Kadang-kadang, kepedulian dimulai dari kesediaan untuk bertanya.
Ketika pekerjaan seorang rekan terlambat, kita mungkin segera menilainya kurang bersungguh-sungguh. Padahal, kita belum mengetahui kendalanya. Bisa jadi ia sedang menunggu data, belum memahami petunjuk, atau menerima beberapa tugas yang tenggatnya berdekatan. Percakapan yang tenang dapat membantu kita melihat persoalan dengan lebih tepat sebelum menentukan langkah.
Tentu, menanyakan kesulitan perlu diikuti kejelasan tanggung jawab. Jika ada pekerjaan yang harus dibantu, kita dapat membicarakan bagian yang membutuhkan dukungan, siapa yang menanganinya, dan kapan hasilnya diperlukan. Dengan begitu, bantuan tetap menjaga keteraturan kerja dan memberi kesempatan bagi setiap orang untuk menunaikan tugasnya.
Rasulullah ﷺ bersabda,
“Seorang mukmin bagi mukmin lainnya seperti sebuah bangunan; sebagian bagiannya menguatkan bagian yang lain.”
Abu Musa, sahabat yang meriwayatkan hadis ini, juga menyampaikan bahwa Nabi ﷺ menyilangkan jari-jari beliau ketika mengatakannya. HR. Al-Bukhari, no. 481.
Perumpamaan itu mengingatkan kita pada pentingnya hubungan yang saling menguatkan. Dalam pekerjaan bersama, kemampuan seseorang dapat melengkapi keterbatasan rekannya. Ada yang teliti memeriksa data, ada yang memahami keadaan lapangan, dan ada yang mampu menjelaskan persoalan kepada pihak yang membutuhkan. Perbedaan kemampuan tersebut perlu dihubungkan melalui komunikasi yang baik.
Ketergantungan antartugas juga menuntut kita menjaga mutu pekerjaan sendiri. Berkas yang kita serahkan tanpa pemeriksaan dapat menambah beban rekan berikutnya. Informasi yang terlambat disampaikan dapat membuat orang lain kehilangan waktu untuk menyiapkan pekerjaannya. Karena itu, menunaikan bagian kita dengan cermat merupakan salah satu cara membantu seluruh tim.
Di sisi lain, kita perlu bersedia menyampaikan keterbatasan. Menyimpan kesulitan sampai mendekati tenggat dapat mempersempit kesempatan untuk mencari jalan keluar. Jika ada kendala, sampaikan keadaan yang sebenarnya beserta bagian yang sudah dikerjakan. Keterbukaan memberi ruang bagi penyesuaian tugas atau bantuan yang lebih tepat.
Hal yang sama berlaku ketika kita memiliki pengalaman lebih banyak. Pengetahuan itu dapat dibagikan dengan sabar, termasuk dengan memberi kesempatan kepada rekan untuk mencoba dan memperbaiki pekerjaannya. Bimbingan yang baik membantu seseorang semakin mampu menjalankan tanggung jawabnya.
Namun, ayat tentang tolong-menolong juga mengingatkan kita untuk berhati-hati terhadap bentuk kebersamaan yang keliru. Menutupi kesalahan laporan, membenarkan data yang belum diperiksa, atau membiarkan pelanggaran demi menjaga hubungan dapat merusak amanah yang sedang dikerjakan.
Ketika menemukan kekeliruan, kita dapat menyampaikannya dengan santun dan mengusahakan perbaikan melalui cara yang semestinya. Hubungan kerja yang baik memberi ruang untuk saling mengingatkan. Kita tetap menghormati orangnya sambil menangani persoalan yang perlu diperbaiki.
Seperti dalam pendakian, perhatian kepada teman perlu disertai pertimbangan yang jernih. Orang yang kelelahan mungkin membutuhkan istirahat atau penyesuaian rencana. Dalam pekerjaan, rekan yang menghadapi kesulitan mungkin membutuhkan penjelasan, pembagian beban yang lebih wajar, atau keputusan dari pihak yang berwenang. Kepedulian menjadi lebih berguna ketika kita memahami kebutuhan yang sebenarnya.
Dari gambaran perjalanan itu, ada satu hal yang ingin saya bawa ke tempat kerja: membiasakan diri melihat hubungan antara tugas saya dan kebutuhan orang lain. Sebelum menyerahkan hasil pekerjaan, saya perlu memastikan bahwa hasil itu cukup jelas dan dapat digunakan oleh rekan yang melanjutkannya.
Kita tidak berjalan sendirian dalam menunaikan banyak amanah pekerjaan. Semoga kita dimudahkan mengerjakan bagian sendiri dengan baik, meminta bantuan saat diperlukan, dan hadir ketika rekan membutuhkan dukungan. Kebersamaan itu kita jaga dalam kebaikan, dengan tetap jujur terhadap tanggung jawab masing-masing.
Komentar
Posting Komentar