← Kembali ke beranda

Menjaga Pikiran di Tengah Banjir Informasi


Di pagi hari, kita dapat menerima kabar musibah, potongan ceramah, perdebatan politik, dan jawaban kecerdasan buatan. Semuanya hadir berdekatan, meminta perhatian, seolah perlu segera ditanggapi.

Di antara banyaknya informasi itu, kita perlu memberi waktu kepada pikiran untuk memahami. Sebuah kabar mungkin sudah kita bagikan, sementara sumbernya belum sempat kita periksa.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.”     QS. Al-Isra’ ayat 36, terjemahan Kementerian Agama)

Ayat ini mengingatkan kita bahwa mendengar, melihat, dan meyakini sesuatu memiliki tanggung jawab. Ada batas pengetahuan yang perlu kita akui sebelum berbicara dan mengambil sikap.

Dalam tafsirnya, Ath-Thabari meriwayatkan penjelasan Qatadah, seorang ulama dari generasi tabiin. Qatadah mengingatkan agar seseorang tidak mengaku telah melihat, mendengar, atau mengetahui sesuatu yang sebenarnya tidak ia lihat, dengar, dan ketahui. Penjelasan ini menuntun kita untuk jujur tentang dasar sebuah pernyataan. 

Rujukan: Tafsir Ath-Thabari atas Al-Isra’ ayat 36

Dalam kehidupan digital, prinsip tersebut dapat menjadi pegangan saat membaca berita, menghadapi perbedaan, dan menggunakan teknologi. Kita belajar menyesuaikan keyakinan dengan bukti yang tersedia.

Memberi waktu untuk memeriksa

Sebuah pesan berantai, misalnya, menyebut seseorang telah melakukan tindakan tercela. Pesan itu dilengkapi foto dan kalimat yang membangkitkan kemarahan. Kita merasa cukup yakin karena pengirimnya adalah orang yang kita kenal.

Padahal, kepercayaan kepada pengirim masih perlu disertai pemeriksaan terhadap isi pesannya. Ia pun mungkin menerima kabar tersebut dengan niat baik, tanpa mengetahui bahwa foto itu berasal dari peristiwa lain.

Di sinilah pikiran memerlukan kebiasaan yang sederhana: mencari sumber awal, membaca konteks, dan menahan kesimpulan selama buktinya belum cukup. Keterangan “belum dapat dipastikan” membantu kita menjaga kejujuran.

Kebiasaan ini menjadi lebih sulit ketika sebuah informasi menyentuh identitas kita.

Saat kelompok yang kita dukung dikritik, kita mungkin segera mencari pembelaan. Ketika kelompok yang tidak kita sukai dituduh, kita mungkin lebih mudah mempercayainya. Kedekatan dan ketidaksukaan dapat memengaruhi kesediaan kita memeriksa bukti.

Bayangkan sebuah potongan video yang memperlihatkan seseorang dari kelompok lain berbicara kasar. Dari beberapa detik rekaman itu, pembicaraan dapat melebar menjadi penilaian terhadap seluruh kelompoknya. Kita lalu ikut menanggung kesimpulan yang jauh lebih besar daripada informasi yang tersedia.

Memegang keyakinan membutuhkan kesungguhan untuk memahami dasarnya. Demikian pula, menilai tindakan seseorang membutuhkan pengetahuan tentang tindakan tersebut. Kesalahan satu orang perlu dinilai secara adil, dengan bukti yang jelas dan batas kesimpulan yang tepat.

Kita dapat melatih diri dengan pemeriksaan kecil: apakah kabar yang merugikan kelompok sendiri akan kita periksa seketat kabar tentang kelompok lain? Kesediaan menggunakan ukuran yang sama membantu kita melihat keberpihakan dalam pikiran sendiri.

Kehadiran kecerdasan buatan menambah kebutuhan akan ketelitian ini.

AI generatif dapat membantu kita menyusun pertanyaan, merangkum bahan, dan memperoleh penjelasan awal. Namun, jawabannya dapat memuat informasi keliru yang disampaikan dengan meyakinkan. Risiko ini dijelaskan NIST dalam pembahasannya tentang confabulation, yang juga dikenal sebagai halusinasi AI. (Rujukan: NIST AI 600-1, bagian 2.2).

Karena itu, jawaban yang lancar tetap perlu diperiksa. Ketika AI mencantumkan nama kitab, nomor hadis, hasil penelitian, atau perkataan seorang ulama, kita perlu membuka sumber yang dirujuk dan memastikan bahwa isinya sesuai.

Sebagai penerapan prinsip tanggung jawab dalam memperoleh pengetahuan, kita dapat menggunakan AI untuk membantu proses belajar sambil tetap memeriksa klaimnya. Untuk persoalan yang membutuhkan keahlian, kita juga perlu bertanya kepada orang yang memiliki kompetensi. Kemudahan mendapatkan jawaban membawa pekerjaan lanjutan: memahami alasan dan batas jawabannya.

Belajar sampai cukup memahami

Ada pula kebiasaan lain yang perlu kita jaga, yaitu memberi perhatian kepada suatu pembahasan sampai cukup dipahami.

Kita dapat membaca satu tulisan secara utuh, mencatat gagasan utamanya, lalu menelusuri bagian yang belum jelas. Saat menemukan pendapat yang berbeda, kita berusaha memahami apa yang sebenarnya dikatakan sebelum menyusun tanggapan.

Dengan cara ini, belajar memberi pengaruh pada sikap. Kita lebih berhati-hati menyebut nama orang, lebih teliti mengutip dalil, dan lebih siap memperbaiki pendapat ketika menemukan bukti yang lebih kuat.

Jika kabar keliru telanjur kita sebarkan, tanggung jawab itu dapat diwujudkan dengan mengoreksinya kepada orang-orang yang menerima. Jika pengetahuan kita belum cukup, kita dapat mengatakan, “Saya belum tahu,” lalu melanjutkan pencarian.

UNTUK DIRENUNGKAN

Di tengah banjir informasi, kita perlu merawat jeda antara menerima kabar dan mempercayainya. Dalam jeda itulah kita dapat memeriksa, belajar, dan mengingat pertanggungjawaban di hadapan Allah. Semoga ilmu membuat pikiran kita semakin jernih dan ucapan kita semakin terjaga.


SUMBER & RUJUKAN

Al-Quran, Surah Al-Isra', ayat 36
Tafsir Ath-Thabari, penjelasan surah Al-Isra’ ayat 36
Artificial Intelligence Risk Management Framework

Berhenti sejenak. Bawa pulang satu hikmah.

Jelajahi tema →

Komentar