Saya sering memperhatikan penggunaan istilah bencana alam dalam pemberitaan. Istilah itu begitu akrab sejak kecil sehingga biasanya saya menerimanya tanpa banyak bertanya. Namun, belakangan saya mulai memikirkan seberapa jauh kata alam menjelaskan kejadian yang sedang diberitakan.
Pertanyaan itu kembali muncul saat membaca berita kebakaran hutan dan lahan. Kemarau panjang disebut, kondisi kering dijelaskan, dan kabut asap diberitakan. Saya kemudian ingin mengetahui lebih jauh: bagaimana api bermula, dan apa yang membuatnya meluas?
Allah berfirman:
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia”
Pada kelanjutan ayat tersebut, Allah menjelaskan bahwa manusia merasakan sebagian akibat perbuatannya agar mereka kembali ke jalan yang benar. Rujukan: QS. Ar-Rum ayat 41.
Dalam tafsirnya, Ath-Thabari menjelaskan kerusakan dalam ayat ini berkaitan dengan kemaksiatan dan kezaliman manusia. Ia juga meriwayatkan penjelasan Qatadah, seorang ulama dari generasi tabiin, tentang penutup ayat tersebut: agar manusia kembali dan bertobat. Rujukan: Tafsir Ath-Thabari atas Ar-Rum ayat 41.
Ayat ini mengarahkan perhatian kita kepada tanggung jawab atas perbuatan sendiri. Dalam membicarakan kerusakan lingkungan, kesadaran tersebut dapat mendorong kita memeriksa hubungan antara tindakan manusia dan keadaan di sekitarnya. Adapun sebab teknis suatu kejadian tetap perlu ditelusuri melalui pengamatan dan penyelidikan.
Untuk memahami bencana, kita perlu melihat lebih dari satu unsur.
UNDRR, badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk pengurangan risiko bencana, menjelaskan bahwa bencana terjadi melalui interaksi peristiwa berbahaya dengan keterpaparan, kerentanan, dan kapasitas masyarakat. Perhatian kita perlu mencakup siapa yang berada dalam bahaya, seberapa rentan keadaan mereka, serta kemampuan mereka menghadapi peristiwa tersebut. Rujukan: UNDRR, Definition of Disaster.
Dengan pemahaman ini, pertanyaan tentang seberapa alami suatu bencana perlu dijawab dengan menelusuri setiap kejadiannya. Faktor alam dapat berperan besar. Keputusan manusia juga dapat memengaruhi risiko dan besarnya kerugian.
Dalam karhutla, misalnya, kondisi yang memudahkan kebakaran perlu dibedakan dari sumber yang menyalakan api.
Kemarau dapat membuat vegetasi dan gambut kehilangan kelembapan sehingga lebih mudah terbakar. Sementara itu, sumber api dapat berasal dari aktivitas manusia, baik karena kesengajaan maupun kelalaian. Hubungan antara kondisi kering dan sumber api ini dijelaskan pula dalam tulisan mengenai karhutla di situs Kementerian Lingkungan Hidup. Rujukan: Arief Yuwono, El Niño Tidak Membawa Korek Api.
Karena itu, ungkapan “kebakaran akibat kemarau” perlu dibaca dengan teliti. Informasi tentang kekeringan membantu menjelaskan keadaan lahan. Untuk mengetahui asal kebakaran dan tanggung jawab pihak yang terlibat, kita masih memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.
Penjelasan tentang cuaca dapat benar, sekaligus belum menjelaskan seluruh sebab suatu kejadian.
Hal serupa perlu kita perhatikan ketika membaca berita banjir. Hujan lebat merupakan informasi penting. Namun, untuk memahami besarnya dampak, kita juga perlu mengetahui keadaan wilayah terdampak dan kemampuannya menghadapi ancaman.
Di sinilah ketelitian membaca menjadi berarti. Kita dapat memeriksa apakah laporan sudah membedakan fakta yang ditemukan, dugaan sementara, dan hasil penyelidikan. Kita juga dapat mencari keterangan dari sumber yang memiliki keahlian untuk menjelaskan persoalannya.
Kebiasaan tersebut menjaga kita dari kesimpulan yang tergesa-gesa. Mengetahui adanya musim kemarau belum cukup untuk menyimpulkan asal api. Mengetahui kemungkinan keterlibatan manusia pun belum cukup untuk menuduh pihak tertentu sebagai pelakunya.
Saya juga perlu menerapkan ketelitian yang sama ketika mempertanyakan pemberitaan. Penggunaan istilah bencana alam saja belum cukup untuk menyimpulkan bahwa sebuah laporan mengabaikan tanggung jawab manusia. Isinya perlu dibaca sampai selesai. Mungkin ada penjelasan penting yang luput karena perhatian saya berhenti pada judul.
Pertanyaan terhadap sebuah istilah seharusnya membawa kita kepada pemahaman yang lebih lengkap. Dari sana, kita dapat mengenali bagian yang perlu diperbaiki dan tindakan yang masih mungkin dilakukan.
Dalam pengendalian karhutla, misalnya, BMKG menggunakan informasi iklim, pemetaan kerawanan, pemantauan titik panas, dan peringatan dini untuk mendukung pencegahan. Pengetahuan tentang risiko memberi kesempatan untuk bertindak sebelum kerusakan meluas. Rujukan: BMKG, kesiapsiagaan pengendalian karhutla.
Renungan tentang tanggung jawab ini juga perlu disertai kepedulian kepada korban. Kita tidak dapat menyimpulkan bahwa setiap orang yang terdampak sedang menerima hukuman atas kesalahannya sendiri. Ada kebutuhan mendesak untuk menolong, melindungi, dan memulihkan kehidupan mereka.
Seberapa alami suatu bencana perlu dijawab dengan ilmu dan bukti pada setiap kejadian. Semakin utuh pemahaman kita tentang sebabnya, semakin jelas pula tanggung jawab yang dapat kita tunaikan. Semoga kita mau belajar dari setiap musibah dan menggunakan pengetahuan itu untuk mencegah kerusakan berikutnya.
Komentar
Posting Komentar