← Kembali ke beranda

Tugas Selesai, Sudahkah Kita Belajar?


Kemarin siang kita baru saja menyelesaikan sebuah laporan dengan bantuan kecerdasan buatan. Susunannya rapi, bahasanya meyakinkan, dan kesimpulannya tampak masuk akal. Kita membacanya sekilas, memperbaiki beberapa kalimat, lalu mengirimkannya.

Saat rapat pagi ini, seseorang bertanya mengapa kita memilih rekomendasi tersebut. Kita kembali menatap laporan, mencari alasan yang sebenarnya belum kita pahami. Tugas sudah selesai, tetapi ada bagian dari proses belajar yang terlewat.

Al-Qur’an memperlihatkan kesungguhan Nabi Musa ‘alaihissalam ketika meminta belajar kepada Khidir:

“Musa berkata kepadanya, ‘Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku (ilmu yang benar) yang telah diajarkan kepadamu (untuk menjadi) petunjuk?’”

— QS. Al-Kahf ayat 66, terjemahan Kementerian Agama.

Dalam riwayat Ibnu Abbas, sahabat Ubay bin Ka‘b menyampaikan sabda Rasulullahﷺ tentang perjalanan tersebut. Setelah Allah mengabarkan tentang Khidir, Musa meminta petunjuk untuk menemuinya, lalu berangkat mencarinya. Ada kesungguhan untuk mendatangi dan belajar kepada orang yang memiliki ilmu. Rujukan: Sahih al-Bukhari, no. 74.

Ibnu Katsir, ulama tafsir yang wafat pada 774 H, menjelaskan bahwa permintaan Musa disampaikan dengan lembut. Ia mengaitkannya dengan adab seorang pelajar ketika meminta ilmu kepada orang berilmu. Musa ingin memperoleh pengetahuan yang dapat membimbingnya dalam urusan yang dihadapi. Rujukan: Tafsir Ibnu Katsir atas Al-Kahf ayat 66.

Dari kisah ini, kita dapat merenungkan kembali sikap ketika belajar. Ada kesediaan mengakui bahwa sesuatu belum kita ketahui. Ada pula kesungguhan untuk menempuh proses agar pengetahuan itu benar-benar kita peroleh.

Dalam kegiatan belajar hari ini, sikap tersebut tetap diperlukan meskipun jawaban semakin mudah didapatkan.

Kita dapat meminta AI menjelaskan sebuah istilah, menyusun kerangka tulisan, atau membantu mengurai persoalan. Kemudahan ini membuka kesempatan untuk belajar. Namun, kita tetap perlu memperhatikan apa yang terjadi pada pemahaman kita selama menggunakannya.

Dalam Digital Education Outlook 2026, OECD menjelaskan bahwa keberhasilan mengerjakan tugas dengan AI tidak otomatis menghasilkan pembelajaran. Penggunaannya dapat mendukung kemampuan berpikir ketika diarahkan dengan tujuan pembelajaran yang jelas. Rujukan: OECD Digital Education Outlook 2026.

Perbedaan itu terlihat dalam penelitian yang diterbitkan di PNAS pada 2025. Hampir seribu siswa matematika di sebuah sekolah di Turki mengikuti eksperimen dengan bentuk bantuan yang berbeda. Akses AI memperbaiki hasil latihan. Akan tetapi, ketika bantuan dilepas, kelompok yang menggunakan AI tanpa pengaman pembelajaran memperoleh hasil lebih rendah daripada kelompok tanpa AI. Mungkin jika AI nya didesain lebih memberikan petunjuk daripada langsung memberikan jawaban, akan membantu mengurangi dampak negatif tersebut. Rujukan: penelitian Bastani dan rekan-rekan.

Temuan itu berasal dari konteks pembelajaran tertentu. Untuk keseharian kita, ia memberi bahan renungan tentang cara menggunakan bantuan dan kesempatan yang kita berikan kepada diri sendiri untuk berpikir.

Saat sebuah jawaban muncul dengan lancar, kita mungkin merasa persoalannya sudah jelas. Padahal, mengenali kalimat yang terdengar masuk akal berbeda dengan mampu menjelaskan alasan di baliknya.

Dalam laporan tadi, misalnya, kita perlu memahami sumber data, asumsi yang digunakan, dan hubungan antara temuan dengan rekomendasi. Ketika keadaan berubah, pemahaman itulah yang membantu kita menilai apakah kesimpulannya masih dapat digunakan atau tidak.

Salah satu cara memeriksa pemahaman adalah mencoba menjelaskan alasan dengan bahasa sendiri.

Kita dapat memulainya sebelum meminta bantuan. Tuliskan terlebih dahulu apa yang sudah diketahui, bagian yang belum dipahami, dan upaya yang sudah dicoba. Dengan begitu, kita memiliki pertanyaan yang lebih jelas.

Ketika menggunakan AI, kita dapat meminta penjelasan bertahap atau petunjuk pada bagian yang kuta belum paham. Kita juga perlu membuka sumber yang dirujuk, memeriksa kesesuaiannya, dan bertanya kepada orang yang kompeten ketika persoalannya membutuhkan keahlian.

Setelah memperoleh penjelasan, beri diri kesempatan untuk mencoba kembali tanpa melihat jawaban. Dalam pekerjaan, kita dapat menyusun ulang alasan sebuah rekomendasi. Dalam belajar, kita dapat mengerjakan soal sejenis atau menjelaskan kembali konsep yang baru dipelajari.

Jika masih kesulitan, kita telah menemukan bagian yang perlu dipelajari lebih lanjut. Kita dapat kembali membaca, memperbaiki pertanyaan, atau meminta penjelasan dengan contoh yang lebih dekat.

Proses ini mungkin membuat penyelesaian tugas terasa sedikit lebih lambat. Namun, untuk pekerjaan yang sekaligus menjadi kesempatan belajar, waktu tersebut memberi ruang bagi kemampuan kita untuk bertumbuh.

Kelak, ketika pertanyaan muncul dalam rapat, kita dapat menjawab berdasarkan alasan yang dipahami. Jika ada bagian yang belum diketahui, kita pun dapat menyatakannya dengan jujur dan menelusurinya kembali.

Setelah tugas selesai, luangkan waktu untuk memeriksa apa yang benar-benar kita pelajari. Cobalah menjelaskan satu gagasan atau mengerjakan satu bagian tanpa bantuan. Semoga kemudahan memperoleh jawaban berjalan bersama kesungguhan mencari ilmu yang bermanfaat.

Berhenti sejenak. Bawa pulang satu hikmah.

Jelajahi tema →

Komentar