Ketika sebuah draf surat tersusun dalam beberapa menit, kita mudah merasa pekerjaan sudah hampir selesai. Kalimatnya runtut, bahasanya formal, dan bagian-bagiannya terlihat lengkap. Di tengah tumpukan tugas yang menunggu, hasil seperti itu tentu terasa membantu.
Namun, sebelum mengirimkannya, masih ada pekerjaan yang perlu kita lakukan: memastikan isinya benar. Nama yang tercantum harus sesuai, angka perlu diperiksa, dan kesimpulan harus mempunyai dasar. Kerapian sebuah draf dapat membuat kita nyaman membacanya, tetapi ketelitian tetap diperlukan sebelum menggunakannya.
Allah berfirman,
“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.” QS. Al-Isra: 36.
Dalam penafsiran ayat ini, Qatadah, seorang tabi‘in, mengingatkan agar seseorang tidak mengaku telah melihat padahal belum melihat, mendengar padahal belum mendengar, atau mengetahui padahal belum mengetahui. Penjelasan tersebut diriwayatkan dalam Tafsir ath-Thabari atas Surah Al-Isra ayat 36.
Penjelasan itu mengingatkan kita untuk menjaga kejujuran dalam menyampaikan pengetahuan. Ada batas antara sesuatu yang sudah diketahui, informasi yang masih perlu diperiksa, dan kesimpulan yang belum dapat dipastikan.
Dalam pekerjaan, prinsip tersebut dapat kita terapkan ketika menggunakan hasil bantuan AI. Saat sebuah surat atau laporan kita teruskan kepada orang lain, isinya dapat menjadi dasar penugasan, pemeriksaan, atau keputusan. Karena itu, kita perlu memahami keterangan yang sedang kita sampaikan dan mengetahui dasar yang mendukungnya.
Perhatian terhadap hal ini juga muncul dalam pembahasan sistem penugasan di BBLSDM Komdigi Makassar pada 2 Oktober 2026. AI diusulkan untuk membantu pekerjaan administrasi, termasuk penyusunan draf surat tugas dan laporan kegiatan. Pembahasan tersebut sekaligus menekankan perlunya pemeriksaan serta validasi oleh pihak yang berwenang. Sumber: BBLSDM Komdigi Makassar.
Bantuan itu dapat memberi kita waktu untuk menelaah pekerjaan dengan lebih baik. Setelah draf tersusun, kita dapat mencocokkannya dengan dokumen sumber, melengkapi informasi yang kurang, dan meminta penjelasan atas bagian yang belum dipahami.
Pemeriksaan dapat dimulai dari hal yang tampak sederhana. Nama dalam surat perlu dicocokkan dengan orang yang menerima penugasan. Tanggal dan lokasi harus mengikuti rencana yang telah disepakati. Kesalahan pada bagian tersebut dapat membuat seseorang menerima petunjuk yang keliru atau harus mengurus perbaikan dokumen.
Angka juga memerlukan perhatian tersendiri. Jumlah peserta, nilai pekerjaan, dan persentase capaian perlu ditelusuri ke sumbernya. Kita perlu memastikan satuan serta periode datanya. Ketika belum tersedia data yang dapat dipercaya, kekosongan itu perlu disampaikan kepada pihak yang dapat melengkapinya.
Begitu pula dengan rujukan. Nomor peraturan, judul dokumen, atau kutipan yang tercantum dalam draf perlu ditemukan dan dibaca pada sumber aslinya. Kita perlu mengetahui apakah rujukan tersebut benar-benar mendukung penjelasan yang sedang dibuat. Jika belum dapat memastikannya, bagian itu masih membutuhkan pemeriksaan.
Ada pula hal yang lebih mudah luput: perubahan makna ketika kalimat dirapikan.
Misalnya, catatan awal hanya menyebut bahwa pemeriksaan lapangan telah dilakukan. Jika dalam draf kalimat itu berubah menjadi pernyataan bahwa seluruh pekerjaan telah sesuai, ada kesimpulan tambahan yang memerlukan bukti. Pelaksanaan pemeriksaan dan hasil pemeriksaan merupakan dua keterangan yang perlu dijelaskan dengan tepat.
Contoh tersebut mengingatkan kita untuk membaca kembali setiap kesimpulan. Dalam laporan pekerjaan, kata seperti selesai, sesuai, atau layak digunakan membawa arti yang penting. Penggunaannya perlu mengikuti hasil pemeriksaan dan kewenangan pihak yang menetapkan.
Di sinilah pemahaman terhadap pekerjaan tetap diperlukan. Kita perlu mampu menjelaskan isi dokumen yang diserahkan, termasuk keterbatasannya. Jika ada bagian yang melampaui kemampuan kita, meminta bantuan rekan yang kompeten merupakan langkah yang dapat menjaga mutu hasilnya.
Ketika tenggat semakin dekat, godaan untuk segera mengirim draf mungkin lebih besar. Kita merasa bahasanya sudah baik dan berharap isinya juga benar. Pada saat seperti itu, ada baiknya berhenti sejenak untuk menelusuri bagian yang paling berpengaruh terhadap tindakan orang lain.
Kejujuran juga perlu dijaga ketika menyampaikan status pekerjaan. Draf yang baru disusun perlu dikenali sebagai draf. Data yang belum diperiksa tetap memerlukan pemeriksaan. Jika suatu kesimpulan masih menunggu konfirmasi, keadaan itu perlu diketahui oleh orang yang akan menggunakannya.
Tanggung jawab tersebut berlaku pula setelah dokumen dikirim. Ketika menemukan kesalahan, kita perlu memberi kabar dan mengusahakan koreksi, terutama jika informasi itu sudah digunakan. Bantuan AI dalam penyusunannya tetap menuntut kesediaan kita untuk memperbaiki hasil yang telah diserahkan.
Dari sini, saya melihat bahwa manfaat AI dalam pekerjaan perlu disertai kebiasaan memeriksa dan kemauan untuk belajar. Semakin mudah sebuah draf dihasilkan, semakin perlu kita menjaga perhatian terhadap kebenaran isinya.
Semoga kemudahan ini membantu kita menunaikan pekerjaan dengan lebih baik. Sebelum menyerahkan hasilnya, kita memeriksa apa yang dapat diperiksa dan mencari penjelasan atas hal yang belum dipahami. Dengan begitu, waktu yang dihemat dapat berjalan bersama mutu pekerjaan dan kepercayaan yang terjaga.
Komentar
Posting Komentar