Kemarin menjelang siang sebuah pesan masuk ketika pekerjaan belum selesai, sementara laporan lain diminta segera. Kita membacanya, merasakan desakan, lalu meneruskannya ke grup staf dengan tambahan kalimat, “Tolong dipercepat. Pimpinan sudah menunggu.” Setelah itu, semua orang bergerak, sementara pekerjaan sebelumnya tetap harus dituntaskan.
Dalam keadaan seperti ini, kita perlu berhenti sejenak dan bertanya, ketika menerima tekanan, apakah kita membantu tim memahami pekerjaan atau sekadar memindahkan kecemasan?
Rasulullah ﷺ memberikan peringatan tentang tanggung jawab orang yang mengurus urusan umat. Dalam hadis yang diriwayatkan Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berdoa, yang maknanya: siapa yang memegang suatu urusan umat lalu menyusahkan mereka, semoga Allah menyusahkannya, dan siapa yang memperlakukan mereka dengan lembut, semoga Allah memperlakukannya dengan lembut. HR. Muslim, no. 1828a.
Ada hal yang patut direnungkan dari cara Aisyah menyampaikan hadis tersebut. Ketika menerima seseorang dari Mesir, beliau menanyakan perlakuan pemimpinnya terhadap mereka. Orang itu menjelaskan bantuan yang diberikan pemimpin tersebut kepada mereka yang membutuhkan. Aisyah tetap menyampaikan hadis ini, meskipun memiliki persoalan terkait perlakuan terhadap saudaranya, Muhammad bin Abu Bakar. Dalam riwayat ini, perhatian terhadap cara pemimpin memperlakukan orang-orang di bawah tanggung jawabnya terlihat nyata.
Saya mengambil pelajaran bahwa keadaan orang yang kita pimpin perlu masuk dalam pertimbangan ketika memberi perintah. Tugas memang harus diselesaikan. Namun, kita juga bertanggung jawab atas cara mengarahkannya.
Dalam pekerjaan, tenggat yang sempit dan kebutuhan mendadak kadang tidak dapat dihindari. Ada pelayanan yang harus segera diberikan, ada keputusan yang menunggu data, dan ada keadaan yang menuntut kerja tambahan. Kelembutan tetap dapat hadir melalui kejelasan arahan, pembagian beban yang adil, dan kesediaan membantu ketika muncul hambatan.
Masalahnya, saat terdesak, kita mudah menganggap bahwa semua orang sudah memahami apa yang ada dalam pikiran kita. Kita tahu siapa yang meminta laporan dan mengapa permintaan itu penting. Staf mungkin hanya menerima satu pesan pendek tanpa mengetahui tujuan, batas waktu yang sebenarnya, atau bagian yang paling dibutuhkan.
Akibatnya, mereka harus menebak. Pekerjaan mana yang perlu didahulukan? Seberapa lengkap laporan yang diminta? Apakah tugas sebelumnya boleh ditunda? Ketidakjelasan itu menambah beban yang sebenarnya dapat kita kurangi.
Di sinilah peran pemimpin diperlukan. Sebelum meneruskan permintaan, kita perlu memahaminya: hasil apa yang dibutuhkan, kapan harus tersedia, dan pekerjaan apa yang akan terdampak. Jika waktunya belum jelas, kita bertanya. Jika beberapa permintaan berbenturan, kita membantu menentukan urutannya.
Bayangkan arahan yang lebih lengkap: “Ringkasan data ini diperlukan untuk rapat besok pagi. Hari ini kita dahulukan angka utama dan persoalan yang membutuhkan keputusan. Laporan rutin kita lanjutkan setelahnya. Jika ada data yang belum tersedia, sampaikan sebelum siang agar saya bantu mengoordinasikannya.”
Arahan seperti itu memberi pegangan. Tim mengetahui tujuan pekerjaan, batas hasil yang diharapkan, dan tempat meminta bantuan. Mereka dapat menggunakan tenaga untuk menyelesaikan tugas dengan lebih terarah.
Tentu, menetapkan prioritas kadang menuntut keberanian berbicara kepada atasan. Kita mungkin perlu menjelaskan bahwa dua pekerjaan tidak dapat selesai bersamaan dengan sumber daya yang sama. Penjelasan itu perlu disertai keadaan yang sebenarnya, pilihan penyelesaian, dan akibat dari setiap pilihan.
Misalnya, kita dapat menyampaikan bahwa ringkasan awal dapat tersedia sore ini, sedangkan pemeriksaan seluruh data membutuhkan waktu hingga esok hari. Atasan pun memperoleh informasi yang lebih baik untuk mengambil keputusan. Menyanggupi semuanya tanpa perhitungan justru dapat meninggalkan staf dengan janji yang sulit dipenuhi.
Kita juga perlu memperhatikan kepada siapa pekerjaan diberikan. Orang yang cekatan sering menjadi tujuan pertama setiap kali muncul tugas mendadak. Lama-kelamaan, kemampuan yang seharusnya dihargai dapat membuatnya terus menerima tambahan beban. Pemimpin perlu melihat keseluruhan pembagian pekerjaan, termasuk kesempatan membimbing anggota tim yang lain.
Selain mengatur tugas, kita perlu menjaga cara berbicara. Desakan tidak memberi kita alasan untuk mempermalukan orang. Ketika hasil belum sesuai, jelaskan bagian yang perlu diperbaiki. Ketika terjadi keterlambatan, cari penyebabnya dan tentukan tindak lanjut. Kemarahan yang kita terima dari atas perlu kita kelola sebelum berbicara kepada orang lain.
Bagi staf, tanggung jawab juga tetap ada. Kita perlu menyampaikan kendala lebih awal, memberikan perkembangan yang jujur, dan menuntaskan bagian yang telah disepakati. Hubungan kerja akan lebih tertib ketika arahan yang jelas bertemu dengan pelaksanaan yang dapat dipercaya.
Sebelum meneruskan desakan berikutnya, ada baiknya kita memastikan bahwa tim menerima cukup penjelasan untuk bekerja. Mungkin kita tidak dapat menghilangkan seluruh tekanan hari itu, tetapi kita dapat mengurangi kebingungan yang menyertainya. Semoga amanah memimpin membuat kehadiran kita membantu orang lain menjalankan pekerjaannya dengan lebih baik.
Komentar
Posting Komentar