Trending Stories

Kota yang Manusiawi: Mengapa Trotoar adalah Hak Esensial bagi Warga Kota

Kota Manusiawi
Lokasi: Batu Pinagut - Bolmong Utara

Pernahkah anda merasa harus "bertaruh nyawa" hanya untuk membeli kopi di seberang jalan? Di banyak kota besar kita, pejalan kaki seringkali dianggap sebagai "warga kelas dua". Kita berkelok-kelok di antara motor yang parkir di trotoar, melompati lubang drainase yang menganga, atau mengalah pada mobil yang klaksonnya seolah lebih galak dari sangkakala kematian.

Padahal, sebuah kota yang maju bukan dilihat dari seberapa lebar jalan tolnya, tapi dari seberapa aman penduduknya bisa berjalan kaki tanpa rasa cemas.


Trotoar: Lebih dari Sekadar Semen dan Ubin

Dalam kacamata urban essentialism, trotoar bukanlah fasilitas pelengkap. Ia adalah infrastruktur paling dasar yang menghubungkan manusia dengan ruang hidupnya. Ketika sebuah kota gagal menyediakan trotoar yang layak, kota tersebut sebenarnya sedang melakukan "diskriminasi ruang".

Kenapa ini esensial? Karena menyediakan trotoar yang layak adalah bentuk demokratisasi ruang, disadari atau tidak trotoar adalah satu-satunya tempat dalam ruang urban di mana status sosial tidak berlaku. Di mall, anda harus punya uang. Di jalan raya, anda harus punya kendaraan. Di trotoar? Anda hanya butuh kaki (atau kursi roda) dan hakmu sebagai warga negara. Selain itu trotoar memiliki dampak kesehatan mental dan sosial, ketika kita berjalan kaki memungkinkan terjadinya spontaneous interaction. Kita menyapa tetangga, melihat senyum pedagang kaki lima, atau sekadar merasakan angin yang berhembus lembut. Jadi kota tanpa trotoar adalah kota yang terisolasi secara sosial.


Trotoar dalam Perspektif Islam

Menariknya, jauh sebelum para pakar tata kota di Denmark membicarakan Walkability, Islam sudah memberikan fondasi kuat tentang hak publik di jalanan. Dalam konsep Islam disebutkan dalam sebuah hadits bahwa menyingkirkan duri dari jalan merupakan cabang keimanan yang paling rendah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan wasiat kepada kita dengan yang amalan yang terendah. Hal ini untuk mengisyaratkan bahwa ada amalan yang lebih tinggi dari itu. Artinya yang rendah-rendah saja hendaknya kita berusaha untuk memperhatikan. Apalagi yang lebih besar dari itu.

''Jika kita menarik benang merah, membiarkan trotoar rusak atau memanfaatkan trotoar untuk kepentingan pribadi dan mengganggu hak pejalan kaki lainnya bukan sekadar masalah tata kota, tapi merupakan pelanggaran terhadap hak-hak sesama".

Menghargai pejalan kaki adalah bentuk memuliakan manusia. Dalam Islam, seorang pengendara memiliki kewajiban moral untuk memberi jalan kepada mereka yang berjalan kaki. Bayangkan jika prinsip ini diterapkan pada kebijakan pembangunan, bisa jadi trotoar akan dibangun lebih dulu daripada flyover.


Trotoar sebagai "Alat Keamanan Sosial"

Banyak orang berpikir trotoar hanya soal estetika ruang urban atau sarana olahraga warga. Namun, ada satu poin yang jarang dibahas: Trotoar adalah sistem keamanan alami kota.

Jane Jacobs, seorang aktivis urban legendaris, pernah mencetuskan teori "Eyes on the Street". Ketika sebuah jalan dipenuhi pejalan kaki, jalan tersebut menjadi aman. Kenapa? Karena ada ribuan mata yang saling mengawasi secara alami. Sebaliknya, jalanan yang hanya berisi mobil yang yang padat dan tertutup rapat cenderung menjadi rawan kriminalitas karena tidak ada "kehidupan" di sana.

Kota yang manusiawi tidak butuh lebih banyak CCTV, ia butuh lebih banyak orang yang berjalan kaki.


Mengembalikan Kota pada Pemiliknya

Membangun trotoar yang lebar, rata, dan teduh bukanlah sebuah kemewahan, itu adalah pemenuhan hak asasi dari masyarakat urban. Saat kita menuntut trotoar yang lebih baik, kita sebenarnya sedang menuntut agar kota kita kembali menjadi tempat yang layak huni bagi semua orang, termasuk lansia, anak-anak, dan teman-teman disabilitas.

Jadi, lain kali jika anda melihat trotoar yang dialihfungsikan, ingatlah! itu adalah ruang kedaulatanmu yang sedang dirampas. Yuk, mulai suarakan bahwa kita ingin kota yang bisa "dipeluk" dengan langkah kaki, bukan sekadar dilewati dengan kecepatan tinggi.

Apakah kamu punya pengalaman unik (atau menyebalkan) saat berjalan kaki di kotamu? Bagikan di kolom komentar ya!

Komentar