Pernahkah kita sejenak berhenti di tengah riuhnya ketukan jemari, lalu bertanya pada sunyi: apakah yang kita lihat di balik layar kaca itu adalah pilihan murni dari kedalaman nurani kita, ataukah sekadar pantulan dari kegaduhan dunia yang tanpa sadar kita amini? Di zaman di mana dunia melipat dirinya ke dalam genggaman, kita sering kali lupa bahwa apa yang kita tatap secara berulang, lambat laun akan menjadi bagian dari cara kita memandang kebenaran.
Algoritma, pada hakikatnya, adalah sebuah cermin yang tidak memiliki nurani, ia adalah gema yang hanya memantulkan suara paling keras, tanpa pernah peduli apakah suara itu adalah doa-doa yang kita langitkan atau sorak-sorai yang melalaikan. Ia tidak diciptakan untuk membedah mana yang mulia dan mana yang nista, melainkan hanya dirancang untuk menangkap getaran perhatian kita.
Ketika mayoritas manusia hari ini lebih memilih untuk menyelami tontonan yang bersifat fasik, dangkal, dan menjauhkan diri dari esensi kehidupan, maka mesin-mesin itu akan menganggapnya sebagai "kebenaran" baru yang harus terus disuguhkan. Kita seperti berdiri di tepi sungai yang keruh; jika kita tidak hati-hati memilih arus, maka keruhnya air itu pula yang akan membasahi seluruh pori-pori pemikiran kita, hingga kita tak lagi mampu membedakan antara air yang menyegarkan jiwa dan lumpur yang mengotori akal budi.
Setiap tontonan dan informasi yang masuk melalui pandangan kita bukanlah sekadar angin lalu, melainkan fitnah yang disodorkan dan perlahan dianyam ke dalam relung hati. Sebagaimana peringatan tegas dari Rasulullah ﷺ,
"Fitnah-fitnah akan ditawarkan kepada hati (manusia) bagaikan tikar yang dianyam seutas demi seutas. Hati mana saja yang menyerapnya, maka akan dititikkan padanya noda hitam..." (HR. Muslim no. 144). Jika hari-hari kita dihabiskan untuk menatap hal-hal yang sia-sia (laghw) dan melalaikan, maka noda-noda hitam itu akan terus menumpuk hingga hati menjadi legam dan berpenyakit (qaswatul qalb). Pada titik inilah degradasi spiritual yang sesungguhnya terjadi; kita menjadi kehilangan kepekaan (girah) terhadap syariat, akrab dengan kemaksiatan, dan puncaknya, menganggap kefasikan di depan layar gawai sebagai sebuah kewajaran yang lumrah.
Inilah mengapa menjaga apa yang kita tonton bukan sekadar tentang etika, karena setiap tontonan fasik, akan dimintai pertanggungjawabannya. Telinga, mata, dan hati semuanya akan hisab. Kita harus menjadi penjaga gerbang yang ketat bagi mata dan telinga kita sendiri, karena setiap kali kita memberikan perhatian pada sesuatu yang tidak bermakna, secara halus kita sedang membiarkan algoritma mendikte ke mana arah langkah ruhani kita selanjutnya.
Namun, ada kekhawatiran yang jauh lebih mendesak daripada sekadar hilangnya waktu kita sendiri, yakni beratnya hisab kita atas anak-anak kita—jiwa-jiwa yang Allah titipkan dalam keadaan fitrah—saat kita membiarkan mereka menyelami rimba digital tanpa pengawasan. Memberikan gawai kepada seorang anak tanpa batasan syariat bukan sekadar kecerobohan pendidikan, melainkan bentuk kelalaian terhadap amanah Allah yang kelak akan dituntut di Pengadilan Akhirat. Kita seolah membiarkan mereka dididik oleh mesin yang buta dari nilai agama, padahal Allah ﷻ telah memberikan perintah yang amat tegas: "Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka..." (QS. At-Tahrim: 6).
Anak-anak adalah peniru yang ulung, dan jika kita membiarkan mereka menyerap apa pun yang sedang ramai di jagat maya, maka kita sedang menyerahkan pembentukan tauhid dan akhlak mereka kepada tontonan yang sarat akan kesia-siaan (laghw) dan syahwat. Ingatlah peringatan Rasulullah ﷺ, "Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya." (HR. Bukhari no. 893). Jika kita sebagai orang tua tidak hadir untuk menyeleksi mana yang menguatkan iman mereka dan mencegah mana yang meracuni akidah mereka, maka jangan terkejut jika kelak kita membesarkan generasi yang asing dari tuntunan Islam. Menyelamatkan akhirat mereka adalah prioritas utama (Al-Aham fal Aham), karena membiarkan jiwa mereka dipahat oleh konten kefasikan sama halnya dengan menukar keselamatan mereka dengan hiburan dunia yang menipu.
Pada akhirnya, kita harus menyadari bahwa teknologi adalah hamba yang baik, namun ia adalah tuan yang sangat kejam jika kita kehilangan kendali. Marilah kita kembali mengambil kendali atas perhatian kita, merenungi setiap detak informasi yang kita serap, dan memastikan bahwa tangan kita tetap menjadi tangan utama yang membimbing langkah anak-anak kita.
Sebab, jika kita membiarkan algoritma yang menulis narasi kehidupan mereka, kita sedang merelakan masa depan kehilangan kemurniannya, terkubur di bawah tumpukan tontonan yang melalaikan. Jagalah apa yang kau pandang, karena darinya hatimu akan terbentuk.
Komentar
Posting Komentar