Trending Stories

Menjaga Nalar dan Keyakinan agar Tak Berkarat: Mengapa Kita Sering Membenarkan yang Biasa?


Pernahkah kita menyadari betapa mudahnya sebuah kesalahan berubah wujud menjadi "kebenaran" hanya karena dilakukan berulang-ulang oleh banyak orang? Dalam ilmu psikologi sosial, fenomena ini sering kali membuat kita terjebak dalam ilusi konsensus. Ketika sebuah kekeliruan dipraktikkan secara masif dan turun-temurun, otak kita cenderung menerimanya sebagai sebuah kelaziman tanpa repot-repot lagi mengkritisinya. Pada titik inilah, kebiasaan yang keliru perlahan-lahan mulai menggantikan kebenaran yang sesungguhnya.

Kejadian menarik sekaligus menggelitik sempat saya alami beberapa waktu lalu di sebuah proyek konstruksi. Saat itu, saya sedang melakukan inspeksi lapangan dan mendapati tumpukan besi beton yang dibiarkan tergeletak begitu saja. Besi-besi itu bersentuhan langsung dengan tanah tanpa alas atau pelindung apa pun, terjemur dan terpapar kelembapan alam terbuka. Tentu saja, sebagai orang yang berpegang teguh pada spesifikasi teknis, saya merasa perlu untuk segera menegur kontraktor pelaksana di lapangan karena risiko korosi yang mengintai material tersebut.

Namun, respons yang saya terima justru di luar dugaan. Dengan nada yang sedikit ditinggikan seolah merasa dihakimi, sang kontraktor berkilah, "Pul, kita ini so 28 tahun da kerja besi, nda mungkin mo bakarat kalo cuma bagitu" (Pul, saya sudah 28 tahun bekerja dengan besi, tidak mungkin berkarat kalau cuma dengan cara begitu). Menghadapi "dalil pengalaman" 28 tahun itu, saya hanya bisa tersenyum dan membalas dengan rendah hati, "Maaf Pak, saya memang anak kemarin sore di dunia konstruksi, dan masih harus banyak belajar dari Bapak. Tapi kewajiban saya mengingatkan apa yang ada dalam spesifikasi teknis."

Secara kaidah keilmuan, besi yang bersentuhan langsung dengan kelembapan tanah dan oksigen di udara bebas akan mempercepat reaksi oksidasi. Tidak peduli seberapa lama seseorang mengaku berpengalaman, hukum alam terkait terbentuknya karat ini tidak akan pernah berubah. Penolakan sang kontraktor tadi adalah contoh nyata bagaimana sebuah praktik keliru yang dilakukan bertahun-tahun dianggap sebagai sebuah kebenaran mutlak. Pengalaman panjang acap kali dijadikan tameng untuk menolak pengetahuan atau standar yang sebenarnya sudah teruji.

Mari kita tarik fenomena "membenarkan yang biasa" ini ke dalam ranah keyakinan dan tradisi yang lebih mengakar di masyarakat kita. Salah satu praktik yang sering dilakukan dan dibenarkan atas nama warisan budaya adalah kebiasaan menyajikan sesajen di tempat-tempat tertentu, seperti pohon besar, perempatan jalan, atau bahkan saat memulai sebuah hajatan dan pembangunan proyek. Praktik ini sering kali dibungkus dengan alasan "menolak bala" atau "menghormati penunggu setempat".

Jika dibedah dari sudut pandang sosiologi, kebiasaan ini merupakan sisa-sisa kepercayaan animisme dan dinamisme masa lalu. Secara psikologis, manusia di masa lampau melakukan ritual ini untuk meredakan kecemasan terhadap alam yang belum mereka pahami. Namun, ketika kebiasaan ini diteruskan oleh masyarakat modern dan dibenturkan dengan konsep tauhid, terjadilah sebuah anomali besar. Esensi tauhid mengajarkan kita untuk menyandarkan segala perlindungan, rezeki, dan harapan murni hanya kepada Allah. Menggantungkan nasib, meminta keselamatan, atau memberikan persembahan kepada entitas selain Dia jelas mencederai kemurnian keyakinan tersebut.

Sayangnya, karena praktik sesajen ini sudah dilakukan secara masif dari generasi ke generasi, ia seolah mendapatkan legitimasi sosial. Banyak yang berdalih, "Dari zaman kakek buyut juga begini, buktinya aman-aman saja," atau menganggapnya sekadar wujud pelestarian kearifan lokal. Padahal, kebenaran tidak bisa diukur dari seberapa lama atau seberapa banyak orang yang melakukannya. Seperti tuntunan murni yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, akidah dan tauhid memiliki standar baku yang tidak bisa dinegosiasikan dengan kebiasaan komunal yang menyimpang.

Jika kita renungkan, kondisi besi beton yang terancam karat dan hati yang memaklumi kebiasaan sesajen memiliki benang merah yang sangat kuat. Keduanya bermula dari paparan lingkungan luar yang merusak, kebiasaan yang tidak dikoreksi, serta keengganan untuk memberikan "pelindung". Besi membutuhkan alas agar tak teroksidasi oleh tanah, sementara nalar dan hati membutuhkan perisai tauhid agar tak "berkarat" oleh tradisi kesyirikan. Seseorang yang berusaha meluruskan hal tersebut, entah dengan menata besi sesuai aturan teknis atau menolak praktik sesajen demi menjaga akidah sering kali akan dianggap aneh, kaku, sok tahu, atau bahkan dituduh tidak menghargai budaya oleh lingkungan sekitarnya.

Terkadang, kenyamanan hidup berdampingan membuat kita enggan untuk mengevaluasi kembali apa yang sebenarnya kita praktikkan setiap hari. Kita membiarkan nalar kritis dan sensitivitas keimanan kita tumpul karena lebih aman mengikuti arus norma mayoritas, betapapun kelirunya hal tersebut. Jika pemakluman demi pemakluman ini dibiarkan, bukan hanya struktur bangunan yang akan hancur karena besinya berkarat, tetapi fondasi keyakinan kita juga ikut lapuk termakan waktu. Seperti sebuah pesan bijak dari guru ngaji saya yang akan selalu relevan di mana pun dan kapan pun: "Biasakanlah yang benar, bukan sekadar membenarkan yang biasa."

Komentar

  1. Ysng lebih parah lagi kalau itu semua sudah menjadi adat gan.

    BalasHapus
  2. klo di jawa itu namanya ndableg mas..hehhe..

    Salam Inspirasi,
    Sesuapnasi

    BalasHapus
  3. has sob slm kenl trmakasih banyak infonya.
    klu d waktu flowbck ya sob hehehe

    BalasHapus

Posting Komentar