Untuk sampai ke bibir pantai, kami harus melewati tumpukan batu cadas yang cukup terjal. Batu-batu ini sengaja ditimbun untuk menahan hantaman gelombang pasang saat musim angin barat tiba. Sambil memegang erat tangan Afaf, kami menapakinya dengan sangat hati-hati, kesalahan satu langkah saja, kami bisa tergelincir.
Sayangnya, air sedang surut jauh. Keinginan Afaf untuk berenang terpaksa tertunda. Agar ia tidak kecewa, saya segera mengalihkan perhatiannya. "Ayo, kita kumpulkan kerikil putih saja!" ajak saya.
Pantai Kampoeng Baroe di Malalayang ini memang unik. Di antara ribuan hamparan batu hitam, terselip kerikil-kerikil kecil berwarna putih yang kontras. Dari titik kami jongkok, terlihat skyline kota Manado di kejauhan, menampilkan wajah urban yang modern namun tetap berpadu dengan alam.
Saya mengumpulkan kerikil-kerikil itu untuk dekorasi tanaman di rumah, hobi kecil yang hingga kini masih saya lakukan. Namun, lebih dari itu, kerikil ini menyimpan kenangan. Memori saya mendadak melompat ke masa kecil, saat saya dan teman-teman sebaya sering berlomba menyelam "bakurebe bamudung" mencari batu putih yang sengaja kami lemparkan ke dasar air.
Tentang Jiwa Sebuah Tempat
Di Boroko, tempat tinggal keluarga kecil kami sekarang, suasana pantainya berbeda total. Di sana didominasi oleh pasir halus dan jajaran pohon bakau. Aktivitas berburu kerikil putih seperti ini mustahil dilakukan di sana.
Perbedaan ini mengingatkan saya pada satu teori arsitektur yang saya yakini:
"setiap tempat memiliki atmosfernya masing-masing. Dengan melibatkan indera, seorang arsitek tidak hanya melihat ruang secara visual, tapi juga merasakan karakter uniknya. Dari sanalah sebuah karya bukan lagi sekadar bangunan, tapi penciptaan suasana".
Refleksi di Atas Cadas
Sambil berjongkok mengumpulkan kerikil bersama Afaf, pikiran saya menerawang. Hidup ini rasanya mirip dengan perjalanan menuruni batu cadas tadi. Terjal, tidak rata, dan penuh tantangan. Kita berjalan di atas "kerikil-kerikil" takdir, ada yang tajam dan menyakitkan, ada yang indah untuk digenggam.Kita tidak pernah tahu kerikil mana yang akan terinjak berikutnya, atau kapan kita akan tergelincir dan terpaksa melepaskan semua yang selama ini kita genggam erat. Kita hanya mengumpulkan apa yang kita perlukan saat itu: yang besar, yang kecil, yang indah, maupun yang biasa saja.
Matahari mulai meninggi. Saya dan Afaf harus mengakhiri ritual pagi ini. Kerikil putih di tangan saya sudah cukup untuk menjadi catatan perjalanan hari ini.
Saat angin laut berembus pelan, tiba-tiba saya teringat pesan seorang sahabat lama tentang sebuah tempat yang pernah ia bisikkan di pantai ini puluhan tahun lalu:
"Pul, carilah tempat di mana kau merasa dirimu dihargai, bukan sekadar dibutuhkan. Karena terkadang, orang datang hanya saat butuh, tapi lupa cara menghargai."
Kesunyian di tepi pantai ini mengajarkan saya tentang kesederhanaan. Bahwa sesungguhnya kesederhanaan itu indah, meski sering kali keindahan itu luput dari penghargaan manusia.
Kampoeng Baroe, 11 Dzulhijjah 1441 H.
menarik
BalasHapus